Articles

Latest news and information about pet care, advice from veterinarians, and Indo Pet Expo!

bakteri-kebal-antibiotika

Hikayat Bakteri yang Kebal Antiobiotika

Center for Infectious Disease Research and Policy (CIDRAP) di bulan Agustus 2016 mengabarkan adanya peningkatan masalah kekebalan antibiotika pada hewan kesayangan, karena itu para pencinta hewan kesayangan sebaiknya mulai mengikuti perkembangan masalah ini.

Dituliskan oleh: drh. Baso Darmawan

Cerita mengenai resistensi (bakteri) terhadap antibiotika mungkin terasa masih jauh di awang-awang bagi sebagian besar pencinta hewan kesayangan. Bila mulai terpikir pun, rasanya kok yang harus memperhatikan adalah para peternak yang lebih banyak menggunakan antibiotika untuk tujuan produksi, karena sudah layak dan sepantasnya jika merekalah yang berhati-hati supaya makanan hasil hewan yang diproduksi bebas dari residu antibiotika dan proses produksi yang dilakukan tidak menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap antibiotika.

Hee.. kebal?

Ya! Resistensi terhadap antibiotika (microbial resistance) adalah kondisi dimana bakteri menjadi kebal terhadap antibiotika yang diberikan dalam pengobatan. Jika terjadi seperti ini, antibiotika tersebut tidak bisa lagi digunakan untuk mengobati karena.. seperti pisau, sudah tidak tajam lagi. Harus diganti dengan antibiotika baru yang lebih poten (baca: kuat) dan sedapat mungkin tidak datang dari keluarga yang sama dari antibiotika yang sudah tumpul tadi. Apa artinya bagi Anda, pencinta hewan kesayangan? Artinya, kalau sampai hewan kesayangan Anda sakit (amit-amit..), maka Anda harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli antibiotika baru tadi. Hadeuh..

Nah, karena sekarang Anda sudah mulai memberi perhatian, mari lihat bagaimana gerangan caranya bakteri bisa jadi kebal terhadap antibiotika?

Bukan, mereka tidak berguru pada dukun mana pun untuk jadi kebal. Kaum bakteri memiliki semboyan hidup yang berbunyi kurang lebih sama dengan lagu-nya mbak Kelly Clarkson: “What doesn’t kill you, makes you stronger”. Nah.. mengerti kan? Jadi kalau kita sedang sakit dan diberi antibiotika oleh dokter, lalu antibiotikanya tidak kita habiskan karena rasanya (memang) tidak enak, niscaya pada saat itulah bakteri yang seharusnya mati jadi tidak mati, malah bertambah kuat seperti kata lagu-nya mbak Kelly Clarkson di atas.

Supaya Anda tidak jadi merasa bersalah, perlu diketahui juga bahwa kejadian yang sama bisa terjadi kalau kita mengkonsumsi makanan asal hewan yang mengandung residu (sisa-sisa) antibiotika, karena hewan dipanen sebelum masa pembersihan antibiotika di tubuhnya selesai, atau jika hewan sakit tidak tuntas menjalani pengobatan antibiotika-nya.

Center for Infectious Disease Research and Policy (CIDRAP) di bulan Agustus 2016 mengabarkan adanya peningkatan masalah kekebalan antibiotika pada hewan kesayangan, karena itu para pencinta hewan kesayangan sebaiknya mulai mengikuti perkembangan masalah ini. Seperti istilah para pejuang kemerdekaan dulu: Belanda sudah dekat, brur..

Yang membuat romantika cerita ini tambah runyam, kekebalan bakteri terhadap antibiotika dapat diturunkan secara genetis dari satu generasi bakteri ke generasi berikutnya. Dan, sejak manusia belum bertukar informasi melalui media sosial, kaum bakteri sudah mampu bertukar informasi satu sama lain, sehingga kesaktian satu bakteri dapat dengan cepat tersebar pada kaum kerabatnya.

Baiklah, cukup sudah kabar buruknya. Sebenarnya yang disampaikan di atas itu bukan untuk menakut-nakuti, hanya untuk mengajak Anda sadar bahwa resistensi antibiotika itu nyata, bukan takhayul buatan politikus yang jualannya tidak laku. Jika Anda sudah sadar, demi ketenangan jiwa, dan sama seperti semua cerita yang indah pada akhirnya, inilah dia beberapa kegiatan yang dapat Anda lakukan untuk mencegah atau mengurangi dampak resistensi antibiotika:

 

  1. Beri hewan Anda hanya antibiotika yang diresepkan atau diberikan oleh dokter hewan. Jangan sembarangan membeli antibiotika, pesan ini juga berlaku untuk para penggemar ikan hias yang gemar merendam ikannya di dalam larutan SuperTetra!
  2. Beri hewan Anda antibiotika sesuai dengan dosis dan lama pemberian yang dianjurkan walaupun kelihatannya hewan Anda sudah sembuh. Jangan malas, kawan.
  3. Beli antibiotika hanya di tempat dan dari sumber terpercaya. Lihat poin nomor satu di atas.
  4. Vaksinasi hewan dan lakukan cara menjaga kesehatan diri dan cara beternak yang baik untuk menghindari infeksi. Ingat lagu “Anak Sehat”? Aku hewan sehat, tubuhku kuat, karena pemilikku rajin dan cermat, semasa aku kecil slalu diberi makanan sehat dan imunisasi…hehe..
  5. Buat catatan tertulis lengkap tentang semua antibiotika yang digunakan beserta hasil pemeriksaan laboratorium. Zaman sekarang bisa dilakukan paperless, kalau perlu tinggal dikirim ke dokter lewat WhatsApp..

Sebagai makhluk yang tingkatannya jauh lebih tinggi dari bakteri, mari kita sadari masalah ini dan lakukan apa yang perlu dilakukan untuk mencegahnya. Selamat Hari Veteriner se-Dunia 2017!

Back to top